Senin, 25 Juni 2012

desain eksperimen


DESAIN EKSPERIMEN


A.    PENGERTIAN DESAIN EKSPERIMEN
Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah eksperimen merupakan langka-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh.

B.     TUJUAN DESAIN EKSPERIMEN
1.      Memperoleh atau mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang diperlukan (berguna) untuk memecahkan persoalah yanga akan dibahas.
2.      Memperoleh keterangan tentang bagaimana respon yang akan diberikan oleh suatu obyek pada berbagai  keadaan tertentu (perlakuan) yang ingin diperhatikan

C.     MACAM-MACAM DESAIN EKSPERIMEN
Beberapa desain ekperimen dikemukakan dalam bagian ini yang diolah dari Leedy (1997); Kerlinger dan Lee (2000) dalam Premananto dan Purwanto (2007) dan Neuman (2006):
1.      Pre-Experimental Design: Memiliki struktur yang lemah, dan dapat menimbulkan bias dan menurunkan validitas internal, merupakan desain yang dianggap tidak memadai dan cacat. Ada tiga pendekatan yang termasuk dalam pre-experimental design, yaitu:
a.       One-shot experimental case study
Menjelaskan konsekuensi variabel tergantung (VT) dari suatu anteseden (VB). Suatu pendekatan yang secara dini menghubungkan suatu anteseden dengan konsekuensi. Pendekatan ni palng rendah reliabilitasnya.
b.      One group pretest-posttest
Mengevaluasi pengaruh dari suatu variabel. Suatu pendekatan yang menyediakan ukuran atas perubahan namun hasilnya dapat tidak konklusif.
c.       Static group comparison
Menentukan pengaruh suatu variabel pada kelompok yang satu dan tidak pada kelompok lainnya. Kelemahan terletak pada ada tidaknya pngujian sebelum eksperimen pada kelompok yang ekuivalen. Simpulan didapat dengan membandingkan kinerja antar kelompok.
2.      True Experimental Design: Memiliki kontrol yang lebih tinggi yang memberikan validitas lebih tinggi. Pendekatannya adalah dengan Pretest-postest control group/Classical experimental design, desain ini disebut sebagai ”the old work-horse of traditional experimentation”. Bila dilakukan dengan tepat dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas internal. Data dianalisis dengan ANCOVA skor posttest dan preteset.
3.      Quasi-Experimental and Special Design: Disebut kuasi karena merupakan varian dari desain eksperimental klasik. Ada 8 macam pendekatan yang digunakan dalam desain ini, yaitu:
a.       Non randomized control group pretest posttest
Menginvestigasi situasi dalam kondisi dimana tidak mungkin dilakukan randomisasi. Bentuk ini adalah salah satu desain riset eksperimen yang paling sering digunakan. Berbeda dengan desain experimental karena pengujian dan kelompok kontrol tidak ekuivalen. Mmbandingkan hasil pretest dapat digunakan sbagai indikasi tingkat ekuivalensi kelompok kontrol dan kelompok eksperimental.
b.      Time series experiment
Menentukan pengaruh suatu variabel baru ketika serangkaian observasi awal telah dilakukan dan ketika hanya satu kelompok. Bila perubahan substansial mengikut masuknya suatu variabel baru, maka variabel tersebut dapat di duga sebagai penyebab perubahan. Untuk meningkatkan validitas internal, dapat dilakukan replikasi di tempat lain dengan kondisi yang berbeda.
c.       Control group time series
Untuk memperkuat validitas dari desain sebelumnya dengan menambah kelompok kontrol. Merupakan varian dari desain di atas dengan melakukan observasi pararel.
d.      Equivalent time-samples
Mengontrol masalah waktu. Merupakan varian desain di atas, suatu model dengan memunculkan dan meniadakan manipulasi secara bergiliran.
e.       Solomon four group design Posttest only
Meminimalisir dampak pretesting. Merupakan pngembangan dari desain pretest-postest control group dan mungkin pendekatan eksperimental yang paling baik. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA pada skor posttest.
f.       Control group Latin square
Mengevaluasi situasi yang tidak bisa dilakukan pretest. Merupakan adaptasi dari dua desain terakhir. Randomisasi mrupakan hal penting. Tst signifikansi dilakukan dengan t-test.
g.      Design
Mengevaluasi apakah urutan berbeda dari serangkaian manipulasi mempengaruhi hasil. Sesuai untuk eksperimen dengan serangkaian manipulasi yang berurutan.
h.      Factorial design
Mengevaluasi dampak simultan lebih dari satu variabel bebas. Kombinasi simultan merupakan manipulasi. Masing-masing kombinasi simultan diamati dan diperbandingkan.
4.      Correlational and Ex Post Facto Design
a.       Causal comparative correlational studies
Mencari hubungan kausal antara dua kelompok data. Memerlukan penelusuran teori dan praktek yang mendalam dalam penggunaannya, mngingat kausalitas tidak dapat disimpulkan hanya karena adanya rasio korelasi yang kuat dan positif.
b.      Ex post facto studies
Pelacakan ke belakang dari data konskuensi untuk mendapatkan anteseden/penyebabnya. Pendekatan ini merupakan reversal dari riset eksperimen. Logika dan inferensi menjadi sarana prinsip dari desan ini

D.    PRINSIP DASAR DALAM DESAIN EKSPERIMEN
1.      Pengulangan (Replcation) :
Pengulangan dari eksperimen dasar, yang berfungsi untuk :
a.       Memberikan suatu dugaan dari galat (kesalahan) eksperimen.
b.      Memperluas cakupan penarikan kesimpulan dari suatu eksperimen. 
c.       Meningkatkan ketelitian suatu eksperimen melalui pengurangan simpangan baku dari nilai tengah (mean) perlakuan.
2.      Pengacakan (Randomization) :
Untuk menjamin kesahihan (validitas) atas pendugaan tak bias dari galat eksperimen dan nilai tengah perlakuan serta perbedaannya.
3.      Pengendalian Lokal (Local Control) :
Langkah-langkah atau usaha-usaha yang berbentuk penyeimbangan, pemblokan dan pemblokan unitu-unit eksperimen yang digunakan dalam desain.
.
E.     CONTOH DESAIN EKSPERIMEN
Sebagai contoh dari desain eksperimen, untuk meneliti pengaruh metode pemecahan soal terhadap prestasi belajar matematika, perlu dipersiapkan rancangan/proposal penelitian. Untuk itu, perlu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.      Persoalan apa yang menjadi pusat perhatian peneliti sehingga harus melakukan penelitian dengan penelitian eksperimen?
2.      Bagaimana mempersiapkan kelompok eksperimen dan kontrol?
3.      Karakteristik metode pembelajaran apa yang akan dibandingkan?
4.      Variabel tergantung (dependent) apa yang menjadi pusat perhatian peneliti dan apa instrumen pengukurnya?
5.      Apa teori dasar yang harus dipersiapkan?
6.      Berapa lama eksperimen akan dilakukan?
7.      Metode analisis apa yang tepat digunakan?
8.      Bagaimana mengurangi kesesatan pada kedua kelompok?
Pertanyaan di atas memberi gambaran bahwa suatu desain untuk mengerjakan suatu eksperimen perlu dipikirkan selengkap dan serinci mungkin, agar dapat dipakai pegangan dalam pelaksanaannya.
Dalam penelitian eksperimen kita tidak terkonsentrasi pada satu jenis desain/ pola eksperimen saja. Ada tiga desain yang disajikan, guru dapat memilih alternatif mana yang paling tepat untuk mencoba suatu tindakan tertentu bilamana kondisi siawa/kelas/sekolah mengalami masalah. Setiap pola/desain eksperimen mempunyai kelemahan dan kebaikannya, namun peneliti harus mampu memilih desain eksperimen yang dapat dilaksanakan dan paling minim mengandung resiko kelemahan.
Beberapa desain eksperimen yang sering digunakan guru dalam memperbaiki hasil belajar siswa, yaitu:
1.      Treatment by Levels Designs.
Desain ini memberikan dasar-dasar pengamatan stratifikasi yang lebih baik. Kita sadari bahwa pada setiap kelompok/kelas selalu dijumpai adanya siswa yang masuk kelompok tinggi dan rendah, ada siswa-siswa yang pandai dan kurang pandai, maka melalui desain ini stratifikasi itu perlu mendapat perhatian dalam menentukan kelompok kontrol dan eksperimen. Kondisi semacam ini dalam pelaksanaan suatu eksperimen perlu diperhatikan agar tidak banyak mengganggu hasil akhir eksperimen. Untuk itu, dalam persiapan eksperimen, peneliti harus menentukan dua kelompok yang di dalamnya terdistribusi siswa yang berkemampuan yang seimbang. Walaupun demikian bukan berarti bahwa desain ini sudah terbebas dari kesesatan, masih juga dapat terjadi bilamana tidak memperhatikan pelaksana/guru pelaku tindakan baik di kelompok eksperimen atau di kelompok kontrol. Pengulangan juga terjadi kalau tidak diperhatikan kemungkinan pengulangan metode pada kedua kelompok itu. Di samping itu, juga perlu diperhatikan variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap hasil eksperimen, maka persiapan perlu dilakukan sebaik-baiknya.
2.      Treatment by Matched Group Designs
Desain eksperimen ini merupakan desain yang paling banyak digunakan para guru dalam menguji keampuhan suatu metode pembelajaran dibandingkan metode lain. Data untuk persiapan dengan desain eksperimen ini dapat diperoleh dari dokumen atau memberikan pretest kepada siswa yang akan dijadikan subyek penelitian. Persoalan pokok yang perlu dipikirkan lebih awal pada matching group adalah faktor-faktor yang harus diseimbangkan agar kelompok-kelompok yang mengikuti eksperimen dapat berjalan pada kondisi eksperimental tanpa dipengaruhi faktor ekstrane. Prinsipnya semua faktor yang dipandang dapat mempengaruhi/mengotori pengaruh tindakan/ treatment harus di-matched/ dijodohkan sebelum tindakan atau eksperimen dilakukan. Misalnya prestasi belajar dan kecerdasan /inteligensi dipandang akan berpengaruh pada hasil eksperimen, maka kedua faktor itu harus di-matched.
Cara melakukan matching dapat dilakukan dengan menguji perbedaan kelompok-kelompok yang dicoba akan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan analisis t-test. Bilamana ada perbedaan antara kedua kelompok itu eksperimen tidak dapat diteruskan, berarti kedua kelompok itu harus menunjukkan adanya kesamaan.
3.      Matched Subjects Designs
Desain ini berlandaskan pada adanya matched subjects pada dua kelompok yang dipersiapkan untuk eksperimen. Pada matched groups, yang dipakai dasar adalah menjodohkan kedua kelompok itu dengan perhitungan seluruh subyek yang ada pada tiap kelompok, sedang matched subjects yang dijodohkan tiap-tiap subyek pada kelompok yang satu dengan subyek pada kelompok yang lain. Pada matched subjects dapat dijodohkan dengan sistem: a) nominal pairing, b) ordinal pairing, atau c) combined pairing. Pada Nominal pairing yang dipasang-pasangkan seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan orang tua. Ordinal pairing yang dipasang-pasangkan adalah intelegensi, prestasi belajar, atau tingkat pendidikan. Sedangkan pada combined pairing, yang dipasang-pasangkan adalah kombinasi antara nominal dan ordinal pairing. Pada pelaksanaannya sangat tergantung pada pelaku eksperimen, sistem apa yang akan dipakai.
Desain ini mempunyai kepekaan (sensitivitas) yang lebih tinggi dibandingkan dengan desain lainnya dalam mendeteksi perbedaan pengaruh tindakan/treatment, apalagi kalau mampu memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mencemari hasil eksperimen.



DAFTAR PUSTAKA



Tanpa nama. 3 Oktober 2011. www.blogdesaineksperimen.com. Pkl. 13.00 WIB
Tanpa nama. 2 Oktober 2011. www.desaineksperimen//382hfh/blog.com. Pkl. 10.00 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar