Senin, 18 Juni 2012

landasan BK


A.    Landasan Sosial Budaya
Sebagai makhluk sosial manusia tidak pernah dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan berkelompok, manusia harus mengembangkan ketentuan yang mengatur hak dan kewajiban individu. Ketentuan itu dapat berupa perangkat nilai, norma sosial maupun pandangan hidup yang terpadu dalam sistem budaya. Karena itu masyarakat dan kebudayaan itu sesungguhnya merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama, yaitu sisi generasi tua sebagai pewaris dan sisi generasi muda sebagai penerus.
1.Individu sebagai produk lingkungan sosial budaya
Setiap anak sejak lahirnya harus memenuhi tidak hanya tuntutan biologis tetapi juga budayanya. Dengan segala tuntutan dan pengaruh dari lingkungan sosial budaya itu terjadilah hubungan timbal balik antara individu dan lingkungannya itu. Individu menjadi milik lingkungan sosial budaya dan lingkungan sosial budaya itu menjadi milik individu tersebut.
Ditilik dari adanya puak-puak, suku-suku dan bangsa-bangsa itu, secara garis besar dapat dilihat adanya tiga tingkat perbedaan budaya, yaitu tingkat internasional, tingkat kelompok etnik dan tingkat yang lebih halus yang ada dalam etnik itu sendiri. Seluruh pengaruh unsur-unsur sosial budaya dalam segenap tingkatnya tersebut membentuk unsur-unsur subjektif pada diri individu. Unsur-unsur subjektif itu meliputi berbagai konsep dan asosiasi, sikap, kepercayaan, nilai, pendapat dsb. Untuk itu perbedaan ini harus dijembatani, sebab kalau tidak hal itu dapat menghidupkan kecenderungan timbulnya pertentangan dan saling tidak menyukai yang akhirnya dapat menghambat tercapainya kesepakatan.
2.Bimbingan konseling antarbudaya
Ada lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi dan penyesuaian diri antarbudaya. Yakni, pesan-pesan yang disampaikan dalam bahasa non-verbal itu memiliki arti yang berbeda-beda atau bahkan bertentangan dalam budaya yang berbeda. Selain itu persepsi (pandangan stereotip) cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subjektif, dan biasanya tidak tepat.
Sumber hambatan komunikasi dan penyesuaian yang lain ialah kecemasan yang ada pihak-pihak yang berinteraksi dalam suasana antarbudaya. Kecemasan ini muncul ketika seorang individu harus memasuki atau bertugas dengan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Karena itu proses pelayanan bimbingan konseling adalah komunikasi antara klien dan konselor, maka proses pelayanan bimbingan konseling antarbudaya sangat peka terhadap pengaruh dari sumber-sumber hambatan komunikasi seperti tersebut. Hambatan yang bersumber dari perbedaan bahasa dan hambatan-hambatan psikososial amat ditekankan oleh Paderson dkk.
 Lebih jauh aspek-aspek budaya tidak hanya mempengaruhi proses konseling saja tetapi lebih luas lagi. Lingkungan sosial budaya yang kaku, otoriter dan mengekang kebebasan perkembangan individu. Pengaruh aspek-aspek budaya itu akan lebih terasa lagi apabila dikaitkan dengan kemampuan konselor. Kebutuhan akan konseling antarbudaya di Indonesia makin terasa, mengingat penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki beraneka corak sub-kultur yang berbeda-beda.
Karakteristik social budaya masyarakat yang majemuk itu tidak dapat diabaikan dalam perencanaan dan penyelenggaraan bimbingan konseling. Klien-klien dari latar belakang social budaya yang berbineka itu tidak dapat disamaratakan penanganannya. Meskipun bangsa Indonesia sedang menuju pada satu budaya kesatuan Indonesia, namun akar budaya asli yang sekarang masih hidup dan besar pengaruhnya terhadap masyarakat budaya asli itu patut dikenali, dihargai, dan dijadikan pertimbangan utama dalam pelayanan bimbingan konseling.s
B.     Landasan Ilmiah dan Teknologis
Pelayanan bimbingan konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya maupun pengembangan-pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan.
1.Keilmuan bimbingan konseling
 Ilmu bimbingan konseling adalah berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang tersusun secara logis dan sistematis. Seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu bimbingan konseling mempunyai objek kajiannya sendiri, metode dan sistematikanya. Objek kajian bimbingan konseling ialah upaya bantuan yang diberikan kepada individu yang mengacu pada keempat fungsi pelayanan yang tersebut terdahulu. Keilmuan bimbingan konseling harus diimbangi dengan unsur-unsur seni hubungan antar pribadi.
2.Peran ilmu lain dan teknologi dalam bimbingan konseling  
Sebagaimana juga pendidikan, bimbingan konseling merupakan ilmu yang bersifat multireferensial, artinya ilmu dengan rujukan berbagai ilmu yang lain. Selain psikologi, ilmu pendidikan dan filsafat, sosiologi memberikan pemahaman tentang peranan individu dalam berfungsinya masyarakat, keluarga, interaksi antar individu dalam kelompok. Gabungan antara sosiologi dengan antropologi memberikan pemahaman tentang latar belakang social-budaya klien. Sedangkan gabungan antara sosiologi dan ekonomi, memberikan pemahaman tentang kondisi status social ekonomi individu. Biologi memberikan pemahaman tentang kehidupan kejasmanian individu.
Semua hal diatas sangat penting bagi teori dan praktek bimbingan konseling. Sumbangan berbagai ilmu lain itu kepada bimbingan konseling tidak hanya terbatas pada pembentukan dan pengembangan teori-teorinya, namun juga kepada praktek pelayanannya. Sedangkan teknologi yang berkembang pada saat itu adalah computer. Bidang yang banyak memanfaatkan jasa computer ialah bimbingan karier dan bimbingan/konselor pendidikan.
3.Pengembangan bimbingan konseling melalui penelitian
Penelitian adalah jiwa dari perkembangan ilmu dan teknologi. Apabila pelayanan bimbingan konseling diinginkan untuk berkembang dan maju, maka penelitian tentang bimbingan konseling dalam berbagai bentuk penelitian dan aspek yang diteliti harus terus-menerus dilakukan. Tanpa penelitian pertumbuhan pelayanan bimbingan konseling akan mandul dan steril.

C.    Landasan Pedagogis
Pendidikan akan ditinjau sebagai landasan bimbingan konseling dari tiga segi, yaitu:
1.Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu: bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan
Pelayanan bimbingan konseling berfokus pada manusia yakni bimbingan dari, oleh dan untuk manusia. Manusia yang dimaksud adalah manuisa yang berkembang, yang terus menerus berusaha mewujudkan keempat dimensi kemanusiaannya menjadi manusia seutuhnya. Wahana paling utama untuk terjadinya pross dan tercapainya tujuan perkembangan itu tidak lain adalah pendidikan. Dalam kaitan itu, pendidikan dapat diartikan sebagai upaya membudayakan manusia muda.
Untuk tugas masa depan mereka itu, melalui proses pendidikan manusia muda memperkembangkan diri dan sekaligus mempersiapkan diri dengan potensi yang ada pada diri mereka dan prasarana serta sarana-sarana yang tersedia. Sejalan dengan itu rakyat dan pemerintah Indonesia melalui UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu, setiap kegiatan pendidikan sekecil apapun harus terkandung di dalamnya usaha sadar, penyiapan peserta didik, untuk peranannya yang akan datang, dan dilakukan melalui bentuk kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan.
2.Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling
Ciri pokok berlangsungnya upaya pendidikan ada dua, yaitu peserta didik yang terlibat di dalamnya menjalani proses belajar dan kegiatan tersebut bersifat normatif. Apabila kedua ciri itu tidak ada maka upaya yang dilakukan itu tidak dapat dikatakan pendidikan. Barangkali ada kegiatan-kegiatan yang dinamakan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, tetapi apabila di dalamnya tidak terkandung unsur-unsur belajar dan norma-norma positif yang berlaku, maka kegiatan itu tidak dapat digolongkan dalam upaya pendidikan.
Demikianlah, bimbingan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya. Pelayanan bimbingan konseling harus didasarkan pada norma-norma yang berlaku. Pelayanan yang tidak normatif bukan pelayanan bimbingan konseling. Sifat normatif merupakan kondisi inheren pada ilmu pendidikan. Demikian juga pada bimbingan konseling. Kesamaan kondisi inheren inilah yang menjadi pengikat sehingga keduanya merupakan disiplin ilmu yang amat terkait satu sama lain.
3.Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan konseling
Pendidikan merupakan upaya yang berkelanjutan. Ia maju terus dengan kegiatan dan program pendidikan yang lainnya. Demikian pula dengan hasil bimbingan konseling. Hasil pelayanan itu tidak hanya berhenti sampai pada pencapaian hasil itu saja, namun perlu terus digelindingkan untuk mencapai hasil-hasil berikutnya. Dan dalam bimbingan konseling tidak ada istilah bimbingan konseling berkelanjutan, dalam arti membimbing individu yang sama secara terus menerus.
Bimbingan konseling mempunyai tujuan khusus yaitu membantu individu memecahkan masalah yang dihadapinya sedangkan tujuan akhirnya adalah bimbingan diri sendiri. Hasil bimbingan yang bisa membuat individu melakukan bimbingan diri sendiri merupakan modal besar tambahan yang akan lebih memungkinkan kesuksesan pendidikan yang dijalani oleh individu itu lebih lanjut. Tujuan bimbingan konseling di samping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan juga menunjang proses pendidikan pada umumnya.  









DAFTAR PUSTAKA

Amti E. & Prayitno. 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Mugiarso H., dkk. 2009. Bimbingan dan Konseling. Semarang: UNNES PRESS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar